Deretan Buku Lokal yang Wajib Dibaca Bulan Ini

Saya adalah tipe orang yang suka banget beli buku-buku lokal, terutama novel. Setiap bulannya harus beli minimal satu buku biar nggak liat layar komputer atau smartphone terus. Nggak deng, alasannya adalah karena memang hobi baca dari kecil.

Sejak kecil, saya sudah dicekokin berbagai buku dan majalah sama ibu. Dari zaman TK sampai SD langganan Majalah Bobo, Ina, dan Ino + tabloid Gaul (demi dapet poster AFI, lol). SMP sampai SMA juga langganan banyak majalah, seperti Gadis, Go Girl, Kawanku, Trax, dan Rolling Stone. Tiap minggu juga sering diajak ibu ke Gramedia Blok M dan selalu dikasih kesempatan untuk beli satu sampai dua buku. Jadi weekend adalah waktu paling menyenangkan buat saya semasa kecil, abis itu jajan panekuk cokelat deh di Melawai (masih ada nggak ya?).

Selain hobi, membaca juga jadi ajang mencari inspirasi (buat tulisan sendiri maupun kerjaan) dan merekomendasikan ke orang lain biar nyambung saat membahas ceritanya. Soalnya saya adalah tipe orang yang gampang terlarut dengan sebuah cerita. Jadi harus ada teman cerita untuk berbagi keseruan bahkan kesedihan kalau sedih banget ceritanya (maafkan daku teman-temanku yang sering ku teror saat meminjamkan novel).

Ini dia 3 buku lokal yang wajib dibaca bulan ini.

Laut Bercerita – Leila S Chudori

Penulis  Indonesia yang sudah lama berkecimpung di dunia sastra ini sukses membuat saya menyukai semua novelnya. Mulai Malam Terakhir, 9 Dari Nadira, sampai Pulang yang bikin saya nangis plus berkoar-koar merekomendasikan ini di dunia nyata maupun maya. Mbak Leila kembali dengan novel terbarunya, Laut Bercerita, yang mengisahkan seorang mahasiswa bernama Biru Laut. Pada tahun 90-an, ia ersama teman-temannya, memperjuangkan keadilan rakyat kecil. Namun perjuangan mereka justru berujung pada tragedi 98.

Kisah perjuangan, pengkhianatan, cinta, ketakutan, kesedihan, ketidakpastian semuanya diangkat dengan apa adanya, tapi membara. Hal menarik dari novel ini bagi saya adalah terkuaknya peristiwa sejarah yang tidak pernah keluar di buku sejarah ataupun media-media. Mungkin kaum seumuran saya (kelahiran 93) masih banyak yang belum tau tentang Indonesia di masa lalu yang sebenarnya. Lewat novel ini, ada banyak informasi yang sebenarnya penting untuk diketahui dan dipahami. Negara kita nggak dalam kebaikan yang baik-baik saja, terutama soal proses hukum dan HAM.

Lewat Laut Bercerita, pembaca diajak menyelam ke kisah yang pilu dan sebenarnya terjadi di sekitar. Terasa disentil dan ditampar bahwa terkadang saya nggak peduli sama keadaan negara ini. Intinya, novel ini sukses membuat semangat mencari dan menggali kebenaran muncul. Akhirnya saya sadar, ada sisi lain yang harus ditengok.

Manifesto Flora – Cynthia Hariadi

Sebelumnya, saya sudah tahu penulis ini dari kumpulan puisi pertamanya, Ibu Mendulang Anak Berlari. Sebab, waktu itu mood saya lagi ingin baca-baca kumpulan puisi dan bukunya mejeng di rilisan terbaru plus jadi pemenang III Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015. Akhirnya saya menjajal buku tersebut. Tahun ini, Cynthia kembali dengan menerbitkan kumpulan cerita pertamanya berjudul Manifesto Flora.

Membaca satu per satu cerita dari Cynthia, saya seperti diingatkan membaca kumpulan cerita dari Yusi Avianto di Singa Kopi Tertawa. Mengapa? Karena kejadian sehari-hari yang sangat sederhana bisa menjadi kisah yang sungguh menggugah. Semua kumpulan cerita di buku ini memang terkesan dingin karena membahas sisi kegelapan, seperti kekecawaan, trauma, depresi, rasa putus asa, dan masih banyak lagi.

Namun bukan berarti dingin banget ya, justru setelah membaca 23 kisah di dalamnya, saya merasa kisah-kisah yang diangkat menjadi kisah yang justru sangat hangat. Apalagi terkesan sangat personal karena hampir semua kisah yang diangkat berelasi dengan keluarga. Dengan kisah yang minim dialog, membuat perjalanan tenggelam dalam cerita menjadi lebih seru dan mendalam. Bersiap-siap meledak karena banyak alur yang tak terduga.

Imaginary City – Rain Chudori

Putri dari Leila Chudori ini juga terjun menjadi seorang penulis. Setelah sukses merilis novel pertamanya, Moonson and Other Stories, Rain kembali merilis novel berjudul Imaginary City. Bedanya pada novel ini, cerita yang ia sampaikan terasa lebih personal. Karena memang dari halaman pertama, Rain menceritakan kisahnya dengan seseorang yang hadir di hidupnya + tempat-tempat di Jakarta yang menyimpan banyak memori.

Misalnya saat ia bersama orang yang dicintai makan es krim di Ragusa. Kedai es krim tertua di Jakarta ini membangkitkan memori di mana saat kecil ia sering diajak oleh ayahnya untuk memesan es krim yang nikmat. Lalu saat mereka menghabiskan waktu di But First Coffee. Rain ‘belajar’ memahami orang-orang yang datang ke kafe tersebut.

Buku ini seolah-olah menyadarkan kita bahwa suatu tempat, lagu, atau bahkan cuaca bisa membangkitkan memori yang indah maupun pahit. Dalam hidup, kita tidak hanya bersinggungan dengan sesama makhluk hidup, tetapi juga benda-benda mati yang makin menghidupkan kisah kita di dunia. Pada akhirnya membuat kita untuk tidak hanya belajar mencintai seseorang, tetapi juga mencintai kota yang kita tinggali.

Uniknya, saat membuka buku ini, kalian akan menemukan sebuah peta besar yang menunjukkan beberapa tempat di Jakarta. Sesuai judulnya, Rain memang membawa pembaca ke satu tempat di mana ia punya kenangan terhadap orang yang ia ceritakan. Selain mendapatkan informasi demi kekhusyukan menenggalami cerita, peta ini juga bisa jadi rekomendasi tempat seru menghabiskan akhir pekan di Jakarta.

2 comments / Add your comment below

Leave a Reply