Icip Menu Jepang di Blok M: Ada Takoyaki & Ramen Terenak

Kawasan Blok M memang selalu ramai dan jadi alternatif tempat menghabiskan akhir pekan. Sewaktu kecil saya hanya merasakan keramaian Blok M di siang hingga sore hari saja. Mulai beli kain di Melawai, beli buku di Gramedia, liat lantai serba kerajinan kayu dan mainan di Pasaraya, hingga makan KFC di Basement Blok M Mall. Beranjak ke remaja, saya dipertemukan dengan festival parade Jepang Ennichisai yang rutin diadakan tiap tahunnya di kawasan Blok M.

Festival ini lah yang mengenalkan saya pada Little Tokyo yang mengelilingi Blok M Square. Ternyata kalau malam, kehidupan Blok M juga ramai karena banyak restoran Jepang yang baru buka di malam hari. Kalian bisa menjajal banyak restoran khas Jepang di sini. Mulai dari menu otentik seperti ramen, sushi, donburi, dan sashimi. Saya yang sudah lama sering banget nongkrong di daerah ini, mau berbagi rekomendasi restoran yang wajib dikunjungi dengan harga yang nggak terlalu mahal.

Soalnya banyak restoran yang mematok harga per menunya lumayan tinggi di Little Tokyo. Selain murah, makanannya enak dan tempatnya nyaman banget. Uniknya lagi, interiornya instagramable! Baik di luar restoran maupun di dalamnya. Ini daftarnya.

Daitokyo Sakaba

Restoran yang berada di bawah naungan Daiso Group ini merupakan restoran Jepang paling terkenal di kawasan ini. Cara mencarinya cukup mudah, berada di samping toko emas dan ada hiasan huruf kanji di depannya. Daitokyo Sakaba buka dari jam 6 sore sampai jam 12 malam, tapi last order-nya jam 11 malam. Lebih baik kalau mau makan di sini, reserve terlebih dahulu karena antreannya cukup panjang.

Saat memasuki restoran, kalian langsung disambut dengan nuansa restoran khas Jepang yang remang-remang. Di sisi kanan ada bilik yang bisa menampung masing-masing empat sampai enam orang. Di sisi kiri ada bar yang langsung berhadapan dengan open kitchen, kalian bisa nonton proses masaknya. Berjalan lurus ke depan kalian akan menemukan bilik-bilik (ada yang duduk di kursi, ada yang lesehan) dengan beragam ukuran (ada yang muat sampai 8-10 orang)

Daitokyo Sakaba termasuk salah satu restoran favorit saya karena makanannya enak dan harganya terjangkau. Menu favorit saya di sini adalah Gyutan Don, Yakitori Don, Tori Mayo Don, Kalbi, dan Kawa. Gyutan Don (Rp 72 ribu) adalah menu donburi berisi empat potongan lidah sapi dan ditaburi potongan nori, sedangkan Tori Mayo Don (Rp 45 ribu) adalah potongan ayam yang diberi topping mayones.

Untuk kali ini saya memesan Yakitori Don (Rp 65 ribu). Isinya adalah nasi dengan topping beragam potongan ayam. Mulai sayap ayam, ati, ampela, kulit, dan daging ayam. Lalu diberi tambahan topping telur setengah matang dan taburan nori. Semua menu donburi ini porsinya pas, tidak terlalu besar dan tidak terlalu sedikit. Nasinya pun pulen. Oh ya, setiap donburi ditemani dengan sup miso yang segar banget dan kaya akan rasa kaldunya.

Jangan lupa cicipi juga berbagai daging bakar yang super enak dan juicy. Jagoan saya Kalbi (Rp 78 ribu) yang dibakar dengan sempurna dan bumbunya yang gurih manis. Kalbi merupakan daging iga sapi tanpa tulang. Makannya ditemani dengan butter rice yang pulen dengan taburan nori. Ada satu menu yang nggak boleh dilewatkan jika ke sini, yaitu Kawa (Rp 15 ribu). Menu ini berupa sate kulit ayam yang super crunchy, gurih, dan nagih banget.

Minumnya juga beragam, tapi saya pasti memesan segelas ocha dingin yang refill dan gratis! Untuk yang memakan babi, Daitokyo Sakaba selalu digadangkan menjadi restoran Jepang yang menyajikan olahan babi yang super enak. Bisa pesan Buta Mayo Don dan Butabara (boneless ribs).

Kashiwa

Di Little Tokyo juga ada salah satu restoran Jepang yang unik karena mematok semua menunya dengan harga Rp 30 ribu. Letaknya di deretan Golden Boutique Hotel. Jika kalian menemukan lampion warna merah dan ada pintu kecil terbuka memperlihatkan anak tangga, berarti kalian sudah sampai di depannya. Restoran ini berada di lantai dua.

Sama seperti Daitokyo Sakaba, restoran ini juga hits di kalangan anak muda Jakarta. Namun sayangnya kalian nggak bisa reserve, kalau mau reserve pun batas waktunya hanya sampai jam 18.30. Dibandingkan Daitokyo, restoran ini lebih ramai dan terang benderang. Tidak ada sekat atau batas, jadi kalian bisa duduk berdempetan dengan meja sebelahnya karena restoran ini memang kecil. Untuk kalian yang makan berdua atau berempat bisa memilih kursi biasa, kalau lebih dari empat orang akan diarahkan untuk duduk lesehan ala Jepang (tatami).

Sajian menu yang dihadirkan pun beragam. Mulai sushi, donburi, udon, chicken katsu, sate-satean dan masih banyak lagi. Bahkan ada juga pizza dan macam camilan seperti kroket. Dibandingkan Daitokyo Sakaba, saya agak jarang makan di sini karena terlalu ramai dan nggak nyaman untuk mengobrol lama-lama, tapi makanannya enak kok dan wajib dicoba juga.

Waktu awal-awal ke sini, restoran ini super ramai dengan orang Jepang asli. Sering kali mereka ngobrol dengan suara yang besar, seru juga sih merasakan atmosfer yang berbeda ini. Ada menu andalan yang wajib dicoba, yakni Chicken Nanban. Menu ini merupakan chicken katsu yang disajikan dengan saus tartar dilengkapi salad sayur (kol dan wortel). Selain itu ada kuah teriyaki juga di bawah ayamnya.

Menu kedua yang wajib dicoba adalah Gyuniko Enokimaki. Jadi ini adalah olahan jamur enoki yang dibalut daging sapi. Rasanya super gurih dan dagingnya juicy. Dilengkapi juga dengan salad sayuran dan mayones. Bumbunya itu sih yang bikin nagih. Kalau baca dari Zomato, sebagian orang rekomendasi okonomiyaki dan takoyaki-nya, tapi bagi saya B aja sih rasanya.

Berbeda dengan Daitokyo Sakaba, ocha dingin disini dihargai Rp 15 ribu dan tidak refill (hiks). Untuk kawa, saya lebih suka olahan Daitokyo Sakaba karena super crunchy. Kalau di sini tidak digoreng crunchy dan masih lembek layaknya kulit pada sate ayam biasa.

Naruto Takoyaki

Bicara tentang makanan Jepang pasti nggak lepas dari takoyaki. Camilan khas Jepang yang terbuat dari tepung, potongan daging gurita, telur ini memang nagih banget. Apalagi jika sudah disiram saus, mayones, hingga katsuoboshi yang menari-nari selagi panas, yum! Waktu saya ke Kashiwa, sempat mencicipi takoyaki yang dibilang enak, tapi bagi saya biasa aja. Justru rasanya kayak takoyaki yang sering dijual dipinggir jalan atau bazar alias nothing special.

Nah baru-baru ini saya dapat info dari Twitter kalau di kawasan Little Tokyo ada kios takoyaki yang katanya enak banget. Bahkan dibilang rasanya mirip kayak takoyaki sesungguhnya yang dijual di Jepang. Kios ini juga ramai oleh orang-orang Jepang dan ternyata yang punya katanya memang orang asli Jepang. Kios ini terletak di sebelah Food Fighters atau deretan Gramedia dan Fave Hotel.

Kiosnya memang kecil dan hanya disediakan meja dan kursi ala bar sebanyak 3 kursi dan meja bundar besar yang dilengkapi 6 kursi. Harganya memang agak sedikit lebih mahal daripada kios takoyaki pinggir jalan. Harga takoyakinya Rp 18 ribu isi 3 atau jika ingin ditambah keju menjadi Rp 20 ribu. Sedangkan untuk isi 6 dihargai Rp 30 ribu dan jika tambah keju menjadi Rp 35 ribu.

Kebetulan saat ke sana saya abis makan dan akhirnya mencoba takoyaki isi keju mozarella isi 3 seharga Rp 20 ribu. Takoyaki-nya disajikan di stereofoam dan bentuknya bulat sempurna. Biasanya kan kalau beli di pinggir jalan ada yang kempes atau yang bolong, ini sih sempurna. Pas masuk ke mulut, langsung lumer dan enak banget! Adonan tepung dan daging gurita (potongannya besar dan nggak amis) itu termasak dengan sempurna. Di luar crunchy, di dalam lembut. Ini sih jadi takoyaki terenak yang pernah saya makan.

Yoiko Ramen 415

Melipir sejenak dari kawasan Little Tokyo, tapi masih di kawasan Blok M, ada ramen yang enak banget! Ramen ini menjadi kedai ramen langganan saya bareng teman-teman dan pacar kalau lagi ngidam. Kedai Yoiko Ramen 415 terletak di Jalan Mahakam (samping Casa Zuki dan depan Hotel Gran Mahakam). Untuk yang pertama kali datang ke sini mungkin nggak ngeh karena memang terletak di sebuah ruko dan plangnya juga nggak wah.

Untuk mencapai kedai ramen ini, kalian harus naik lift ke lantai 4 dan sampailah di Yoiko Ramen 415 yang layaknya nuansa kedai autentik ala Jepang. Apalagi setiap ke sini pasti ramai sama orang Jepang. Nuansa kedai ini didominasi dengan warna merah putih dan lampu yang agak remang. Antar mejanya juga diberi sekat kayu, namun tidak tertutup seperti Daitokyo Sakaba. Dapurnya pun juga agak terbuka, jadi kalau kalian duduk di bar bisa melihat proses penyajian ramen.

Menu favorit saya di sini adalah Gila Ramen yang merupakan ramen pedas dan bisa memilih level kepedasannya dari 1 hingga 3 (namun bagi saya pedasnya masih rasional). Gila Ramen berisi mi, chicken karage, kol, tauge, dan cacahan daun bawang sebagai topping. Buat yang ingin makan ramen dengan kuah yang segar, ini bisa jadi pilihan tepat. Apalagi dimakan dengan chicken karage yang sudah tercampur dengan kuahnya, terbaik!

Salah satu menu ramen yang nggak boleh dilewatkan di sini adalah Shiro Tantanmen kalau ingin kuah ramen yang kental dan creamy. Rasa kaldunya yang thick ini nagih banget sampai nggak mau sisain satu tetes pun. Untuk gyoza-nya sih biasa aja karena terlalu banyak isian sayurnya dan rasanya nggak bold. Namun harga ramennya terjangkau dan dapat ocha yang bisa di-refill sepuasnya. Untuk dua menu ramen di atas harganya Rp 52 ribu untuk small (saran saya beli yang small aja karena isinya udah banyak banget) dan Rp 60 ribu untuk medium.

2 comments / Add your comment below

Leave a Reply