Ketika Kita Sibuk Mencari yang Lebih Baik

IMG_20161113_091651

“when you have something good, please do not go looking for something better”

Mencerna kutipan di atas butuh waktu yang tidak sedikit. Biasanya ketika saya scrolling timeline Twitter atau Instagram dan menemukan berbagai quotes dari akun ternama, saya bisa mencerna itu dengan cepat. Maksudnya mencerna di sini adalah menyetujui atau tidak menyetujui pernyataan tersebut. Namun untuk kali ini, saya akui butuh waktu yang tidak sedikit.

Kenapa emang kita nggak boleh nyari yang lebih baik? Hidup kan menyoal cari berbagai hal yang baik. Tiba-tiba yang terlintas di benak saya saat membaca kutipan ini  adalah apa yang terjadi belakangan ini di hidup saya.

Sekitar satu tahun yang lalu, saya memutuskan untuk memulai suatu hubungan dengan orang yang menurut saya menarik untuk dipelajari. Tak perlu menceritakan siapa dia dan seperti apa orangnya, sebagian dari kalian mungkin mengetahui siapa orang tersebut. Kenapa saya bilang menarik untuk dipelajari? Memulai suatu hubungan tentunya ada tujuan, untuk mencapai tujuan tersebut harus belajar kan? Itu maksudnya. Dan awalnya saya berpikir bahwa dia punya bibit untuk membuat hidup saya lebih seru (I kno it sounds cheesy, but that’s the truth).

Awal menjalani hubungan ya pastinya manis terus. Setiap Sabtu selalu menghabiskan waktu bersama, mulai mencoba tempat baru, mencoba makanan baru, menonton film baru. Setiap hari bertukar kabar tentang kerjaan dan kejadian lainnya. Seminggu dua kali dijemput. Hampir seluruh waktu saya habiskan dengannya. Apa yang saya rasakan? Senang bukan main karena ada orang lain yang peduli sama kita di setiap saat.

Tak terkecuali feed Instagram dan timeline Path saya juga penuh dengan foto dirinya. Senang rasanya membagi hal yang saya cintai dan kegiatan yang saya senangi ke khalayak luas (fakta: kebahagiaan bisa datang dari mana aja, dari hal yang kecil pun). Sering juga menerima banyak komentar “kalian seru banget sih pacarannya” atau “pengen deh adem ayem aja kayak kalian”. Kenyataannya? Nggak begitu, nggak adem-ayem aja. Bukan saya mau menjelek-jelekkan pasangan saya, tapi saya ingin berbagi kisah mengenai bagaimana rasanya berkomitmen untuk melalui suatu perjalanan yang panjang bersama-sama.

Tiap hari saya sama dia juga berantem. Mulai dari sindir-sindirian, keluarlah kalimat dengan menggunakan huruf kapital, dan berakhir diem-dieman. Siapa yang salah? Ya kita berdua, bukan saya aja atau dia aja. Menjalani hubungan tak semudah itu, tapi saya tak menyesal sekalipun. Kenapa keliatan adem ayem aja? Ya kalau berantem ya berdua aja, nggak diumbar-umbar, paling ya galau dikit gitu di Twitter dan bisa ditepis “ah itu mah tadi gue nemu orang yang blablabla” kalau ada orang yang bertanya saya kenapa.

Di awal saya bilang dia adalah orang yang menarik untuk dipelajari. Nyatanya? Jauh lebih dari sekedar dipelajari, bertemu dan menjalani keseharian dengan dia membuat saya terbuka dengan banyak hal, yang saya rasakan positif bagi kehidupan saya. Di balik berantem, ada banyak pelajaran yang bisa saya ambil.

Memilki seseorang berawal dari memilih seseorang. Saya memilih dia karena banyak hal positif yang saya lihat. Setelah menjalaninya ternyata ada banyak hal yang bersimpangan dengan apa yang saya anut. Contoh gampangnya, saya sering tidak sependapat dengannya. Nggak bakal ketemu kan kalau gini caranya? Saya nggak bilang kelakuan dia negatif karena perspektif orang pun berbeda-beda. Menurut saya, X itu wajar. Menurut dia enggak. Menurut saya Y itu nggak pantas. Menurut dia pantas-pantas aja.

Dari situ saya belajar bahwa kita tidak bisa memiliki semua apa yang kita mau. Persoalan benar dan salah itu nggak ada ujungnya. Benar menurut siapa? Salah menurut siapa? Terkadang saya harus mengalah, terkadang dia yang harus mengalah dalam banyak hal agar hubungan ini bisa berjalan terus. Saya childish, dia nggak mau kalah. Nggak bakal ketemu lagi kan? Caranya, ada satu masa saya harus mengalah, ada satu masa dia yang harus mengalah. Ini persoalan bagaimana agar kita berdua bisa sampai di suatu titik.

Alhamdulillah saya sama dia berantem cuma lewat kata-kata dan masih punya akal sehat dan mimpi untuk membuat semuanya kembali baik-baik aja. Berantem itu perlu bagi saya karena saya perlu meluapkan emosi, karena saya punya hak untuk sharing apa yang saya rasa, karena saya mau pasangan saya tau apa yang saya inginkan. Berantem bukan untuk agar dia nurutin kata saya. Bagi saya, berantem itu untuk mengembalikan akal sehat agar kita berdua tau harus bagaimana untuk ke depannya.

Inti dari post ini, ketika saya memilih seseorang dan mendapatkannya, lalu ternyata semua bisa berjalan baik-baik saja (walaupun terkadang harus menghadapi jalan yang super curam), tandanya saya mendapatkan sesuatu yang baik. Bisa saja saya putus asa karena kerjaannya berantem terus dan berpikir “salah apa gue sampe segininya? Emang nggak ada ya yang bisa perlakuin gue dengan lebih baik ya” (ini berdasarkan curhatan teman-teman saya).

Ketika saya mendapatkan seseorang yang memang juga memilih saya (plus saya berusaha bikin dia senang, dia pun juga berusaha saya bikin selalu senang), saya nggak perlu berpikir dan mencari apa yang lebih baik karena yang lebih baik datang dari diri saya sendiri dan dirinya. Sesuatu yang lebih baik merupakan perkara sama-sama berjuang untuk mendapatkan apa yang kita berdua inginkan. Bagaimana caranya, bukan mencari siapa sebenarnya yang bisa memberikan sesuatu yang lebih baik.

Terkadang kita terlalu disibukkan mencari sesuatu yang lebih baik dari luar. Terkadang kita lupa untuk menikmati apa yang sudah kita miliki.

Leave a Reply